Questioning My Life Choice

23 Juli 2026

Saya menulis tulisan ini ketika sedang naik kereta Shinkansen pulang ke Nagoya dari Tokyo. Hari ini ceritanya saya harus menghadiri joint research meeting di The University of Tokyo. Anggota timnya terdiri dari tim riset Nagoya University, tim dari The University of Tokyo, dan tim dari suatu perusahaan yang ikut kolaborasi. Meeting akan dilaksanakan pukul 14:00. Karena saya paling tahu tentang diri saya yang gampang kesasar, saya memutuskan berangkat lebih pagi, memberi alokasi “waktu kesasar/tersesat” sekitar satu jam. Cukup lah ya. Saya berangkat dari rumah ke stasiun subway terdekat, dan jalan kaki dari rumah ke stasiun kereta yang cuma 10 menit itu berasa kayak di neraka. 

38 derajat Celsius. Puncak musim panas. 

Dan high humidity. 

Baru perjalanan awal saja baju saya mulai basah karena keringat. Padahal, saya sudah bawa portable fan yang ada pendinginnya, bawa payung anti UV, pakai airism, dan pakaian yang memang didesain khusus untuk musim panas. Pas naik kereta, ternyata enggak dapat tempat duduk. Jadilah saya berdiri sepanjang perjalanan sampai di stasiun pusat kota. Dari stasiun pusat (Nagoya Station), saya naik Shinkansen sampai Shinagawa Station. Pas turun di Shinagawa, the situation couldn’t be better. 

Manusianya lebih banyak. 

Cuacanya lebih panas dibandingkan Nagoya, humiditynya terasa lebih tinggi. 

Saya langsung keluar dari gate Shinkansen dan langsung jalan ke gate untuk kereta lokal, kali ini naik Yamanote Line dan turun di Shibuya Station. Untungnya pas naik kereta yang ini, saya dapat tempat duduk. Kalau enggak dapat tempat duduk mungkin saya sudah pingsan. 

Pas turun di Shibuya Station, saya harus transfer kereta naik Inokashira Line, tapi platform buat naik Inokashira Line enggak tahu dimana, dan tidak ada tulisan petunjuk arahnya sama sekali. Mana Shibuya Station itu kayak dungeon / maze yang saya sudah pernah trauma tersesat sampai hampir terlambat naik Shinkansen di Tokyo station. Menyerah, saya memutuskan tanya staff stasiun di pos dekat ticket gate. Ketika saya masuk ke pos nya, di depan saya ada ibu-ibu orang Jepang juga sedang tanya arah platform kereta. Karena dekat, saya dengar percakapan mereka. 

Ibu-ibunya bertanya, “saya mau naik Inokashira Line, boleh diberitahu cara ke platformnya?”

LAH SAMA, pikir saya. Ini semua orang berarti mengamini ke-ghaib-an platform untuk naik kereta Inokashira Line. Jangan-jangan kayak Hogwarts Express? Harus lewat platform ? LOL.

Bapak-bapak petugasnya menjelaskan dengan pelan-pelan, dan hati-hati. Pas saya ikut mendengarkan, LOH KOK PENJELASANNYA PANJANG BANGET. Ini bapak-bapak staffnya juga berarti mengamini susahnya mencapai platform Inokashira Line? Penjelasannya panjang banget tapi kayak udah hafal diluar kepala. Berarti sudah ada banyak orang yang tanya, sampai bapak-bapaknya berkali-kali menjelaskan dan hafal? Wkwkwkwk.

Masalahnya, itu ibu-ibunya kayak mengangguk-angguk seolah bisa ingat dalam sekali dijelaskan. 

Ibu, anda jenius? 

Saya juga berusaha ikut mengingat-ingat kan, tapi terus otak bagian mager saya itu memutuskan “udah nanti ikutin ibu-ibu itu aja pasti sampai”, begitu. Tapi pas ibu-ibunya itu selesai dijelaskan, berterima kasih, lalu pergi, kan jadi giliran saya ya, kan jadi awkward, kan enggak bisa langsung bilang “enggak jadi Pak, saya ngikut ibu-ibu itu saja!” Jadi, saya reflek ikut nanya, pertanyaan yang sama dengan ibu-ibu sebelumnya, cara pergi ke platformnya Inokashira Line, dan sekali lagi, dengan jawaban yang sama, bapak-bapak staffnya menjelaskan ke saya. Mungkin bisa diambil hikmahnya ya, saya dengar jawabannya dua kali, jadi bisa lebih ingat. 

Setelah berterima kasih dan keluar dari pos, quest saya dimulai: menemukan platform untuk naik kereta Inokashira Line. Pas saya keluar dari pos staff tadi, di kejauhan saya bisa melihat ibu-ibu yang tadi, yang masih jalan sambil seperti kebingungan mencari papan petunjuk arah, tapi seperti mengkonfirmasi dan lanjut jalan. LOHH LUCKYY!! Saya langsung lari supaya bisa dekat dengan ibu-ibu itu dan ikut sampai platform. Jalan serong kanan, turun ke bawah pakai eskalator... LOH kok sudah platform kereta, padahal tadi bapak-bapaknya bilang jauh kok, eh ternyata platform kereta lain. Terus luruuuusss melewati platform kereta lain, terus naik lagi ke atas pakai eskalator, terus belok lagi, lurus lagi, belok lagii… 

LOH KOK SAYA DI LUAR, keluar dungeon.

LOH manusianya banyak, ibu-ibunya sudah enggak kelihatan lagi, enggak tahu tadi setelah keluar, beliau jalan ke arah mana… mana ini ada konstruksi pula makin ribet jalannya.

Oh tapi ini ada papan petunjuknya, di suruh lurus, terus belok kanan.

Habis itu disuruh lurus.

LOH KOK HALTE BUS.

Habis halte bus juga sudah jalan raya. 

Menyerah, saya tanya ke bapak-bapak pekerja konstruksi. Lengkap lah templatenya: permisi, maaf, terus bertanya, terus terima kasih.

Bapaknya bilang deket kokk cuma jalan 3 menit lurus KE ARAH SANA (sambil nunjuk tangga ke atas yang ketika sampai atas punya dua cabang, yang satu nyambung ke penyeberangan jalan, yang satu nyambung ke DALAM STASIUN. 

Jadi teman-teman, papan penunjuknya tadi minta saya jalan lurus itu, pilihan “lurus” nya ada dua, lurus ke halte bus, sama lurus ke tangga. MEREKA SEBELAHAN GITU. Dan yang bener itu pilih lurus ke arah tangganya. Naik tangga, belok serong kiri, masuk stasiun, ikuti aliran manusia-manusia itu, terus pas keluar dari koridor itu, saya tiba di sebuah ruang indoor luaasss dan finally ada ticket gate tulisannya buat Inokashira Line. 

INI BARU PERJALANAN berangkatnya lho.

INI BELUM MEETINGNYA lho. 

Gustiiiiii. 

Sudah sampai di platform, sisi kanan dan sisi kiri itu sama-sama Inokashira line. TULISANNYA YA, SAMA-SAMA INOKASHIRA LINE. Naiklah saya di sisi kanan yang datang lebih dulu. Terus denger pengumuman di dalam keretanya. “Terima kasih sudah naik kereta Inokashira line. Kereta ini adalah kereta EXPRESS yang ENGGAK BERHENTI DI TIAP STASIUN, dengan tujuan akhir BANDARA.” 

Saya, yang listeningnya 100% skornya ini, denial sepersekian detik, lalu misuh-misuh. 

Saya salah naik kereta, saya harusnya naik yang biasa, bukan yang express, yang turun di tiap stasiun, dan seharusnya turun setelah dua pemberhentian. Tapi karena saya salah naik yang express, si kereta ini hanya berhenti di pemberhentian keempat. Untung saya gercep, jadi langsung ngeh kalau salah kereta, turun di pemberhentian ketiga, terus naik kereta di platform yang sama tapi arah kebalikan. 

Akhirnya saya sampai dengan selamat di stasiun Komaba-todaimae.

Pas saya turun dari kereta, saya disambut panas dan humidity yang tinggi, dan kesannya stasiunnya kayak stasiun kereta di countrysidenya Jepang, dan enggak ada toilet umum. 

HAH? Bukan seperti ini Todai yang saya bayangkan.

Mungkin ini bukan kampus utama? Saya dengarnya yang Komaba campus ini lebih banyak buat yang pascasarjana (Master, Doktor) sih. But still… 

Stasiunnya judulnya Todaimae, tapi saya masih harus jalan beberapa menit, mana tanjakan pula.

Baju saya sudah hampir basah kuyup, tahu gitu saya bawa baju ganti huhuhu. 

Sampai di Todainya, tidak ada gerbang yang fancy, tidak ada apapun, hanya jalan masuk yang kecil dengan plang tulisannya Todai Komaba campus. Pas masuk ke lingkungan kampusnya, WAHHH SEPIIIII. SEPI! Banget! Enggak ada mahasiswa sliwar sliwer ngejar jadwal kelas, ada beberapa café dan tempat makan juga tetapi sepiii enggak ada mahasiswa yang ngobrol-ngobrol atau makan. Mungkin lebih banyak gedung yang isinya lab untuk riset yaa daripada gedung untuk kelas. 





Sampai di gedung tempat meetingnya (Prof. Someone’s laboratory), saya minta dibukakan pintu gedungnya, terus naik lift ke lantai tiga. Langsung kelihatan tulisan labnya, jadi saya ketuk pintu ruangannya. Pas dibuka dan masuk, sudah ada teman saya satu lab anak Master tahun kedua yang tema risetnya juga sama-sama kolaborasi dengan Perusahaan ini, dan satu orang lagi dari Perusahaan yang biasanya datang untuk meeting ke kampus kami. Pas saya cerita kalau saya salah naik kereta, Bapak-bapak yang dari Perusahaan bilang: “sampai Shimo-Kitazawa yaa?” 

Loh jadi orang lain juga salah naik kereta? Wkwkwkwk. 

Heeehh akhirnya sampai juga di tempat meeting, pukul 13:00. 

Kami menunggu sampai 14:00, Prof. saya juga sudah datang, terus pindah ke ruang meeting.

Meeting dimulai.

Masing-masing dari kami mempresentasikan progress riset kami.

Terus berdiskusi mau bagaimana setelah ini kedepannya.

Terus Prof. saya sempat bete dengan orang yang dari perusahaan itu.

Saya dengan muka kalem saya: 


“KENAPA ENGGAK ONLINE AJA SIH MEETINGNYA” 

Heehh Lelah. 

Meeting selesai pukul 16:30, Prof. saya langsung pulang setelah meeting. Saya, setelah visit lab bareng teman lab saya, saya pulang mendahului. Terus saya kepikiran: SAYA HARUS NGULANG RUTE TADI KETIKA BERANGKAT??!! Baru kepikiran saja sudah capek lemes banget. Tapi, tetap harus dijalani, karena saya pengen pulang, dan karena saya sudah ingat rute pulang yang sama dengan rute berangkat tadi, jadi tinggal dibalik. Alhamdulillah bisa sampai Shinagawa Station dengan selamat dan lebih cepat daripada ketika berangkat tadi. Saya langsung ganti tiket Shinkansen yang sudah saya reservasi ke Shinkansen yang lebih awal (terima kasih SMARTEX!!), langsung masuk Shinkansen, duduk. 

Alhamdulillah, semua sudah terlewati, tinggal duduk di Shinkansen sampai Nagoya Station, terus lanjut naik kereta sampai stasiun dekat rumah. Sambil istirahat, saya sambil lihat sekeliling. Kemungkinan juga banyak penumpang yang habis business trip terus pulang ke kota tempat mereka tinggal. TAPIII, kok mereka masih cantik, masih wangi. 

Saya ini lho, sudah kucel, atleast wangi sih, enggak bau keringat juga. Tapiii kok beda. 

Huhuhu.

Enggak cocok di saya business trip business trip meeting luar kota gini.
 

Capek. 

Maaannnn, sepertinya jadi ibu rumah tangga yang suaminya kaya tidak buruk juga…

Ngurus anak, nunggu jam pulang sekolah sambil duduk-duduk baca buku di café, jalan-jalan… 

Saya jadi questioning life choice saya. Kerja capek. Kebutuhan mahal, pajak mahal. Kehidupan dewasa ternyata capek. Ngapain hidup di dunia ini tapi isinya capek. Tapi, saya tidak bisa membayangkan saya kerja di suatu Perusahaan atau di badan pemerintahan atau di industri, apalagi di Indonesia. Banyak divisi, banyak event, ada bos tiap divisi, orang-orang yang rentang usianya luas, manusia-manusia unik yang ada saja gebrakannya… Mana saya orangnya terlalu baik, enggak enakan, sedang bertumbuh supaya enggak jadi people pleaser… takut banget kalau saya jadi orang yang gampang dimaanfaatkan atau dibully. Saya juga tidak bisa membayangkan kalau jadi ibu rumah tangga, enggak bisa riset, enggak bisa diskusi, enggak bisa heboh siapa yang dapat Nobel prize tahun ini, enggak bisa ngegosip bareng mahasiswa. 

Ini kalau saya oversharing di sosmed pasti langsung dibikin humble sama masalah orang-orang lain yang “lebih” capek, wkwkwk. Terus dibilang secara sarkas “ugh, my steak is too juicy, my lobster is too buttery” 

Saya jadi sadar, kalau sebenernya “pekerjaan” itu luas, bidangnya banyak, jenisnya banyak, Perusahaan ada banyak, enggak sesempit jenis cita-cita yang diucapkan anak SD zaman dulu. Dan di antara banyak jenis pekerjaan itu, saya bisa menjalani pekerjaan yang mungkin sesuai dengan diri saya, yang saya inginkan, yang sesuai dengan karakter saya. Capek sih, tapi yasudah jalani saja. 

Kelamaan melamun, saya dengar pengumuman kalau shinkansen sudah mau berhenti di Nagoya Station. Ga sabar banget buat pulang, sampai di rumah, mandi air hangat, pakai face mask, sambil tiduran dan main game. 

Dengan merasa capek banget, mungkin momen istirahat jadi bisa dinikmati tanpa guilty. Hehe. Terima kasih sudah membaca yapping saya!

Comments